Cocoa Farmers in Berau and Malinau on the move

malinau

COCOA FARMERS IN BERAU AND MALINAU ON THE MOVE

PERGERAKAN DAN PERUBAHAN MENUJU KAKAO BERKELANJUTAN DI BERAU DAN MALINAU

Semangat perubahan dan perbaikan untuk pengembangan komoditi kakao berkelanjutan di beberapa wilayah, gaungnya semakin kuat. Secara history dan jika dirunut lewat sebuah diskusi dan cerita, kakao terbukti sebagai “tungku” perekonomian keluarga. Tidak terkecuali di beberapa wilayah yang selama ini luput dan tenggelam dari berita kakao yang didominasi oleh wilayah sentra produksi di Indonesia. Kabupaten Jembrana-Bali, Kabupaten Konawa Selatan-Kendari, Pasaman-Sumatera Barat, Berau-Kaltim dan Malinau-Kaltara dan masih banyak lagi, sedang menggeliat dalam pergerakan menuju perubahan ke rantai nilai (value chain) yang lebih baik.

Membangun perubahan ini tidak mudah, tetapi minimal gerakan ini sudah dimulai, didampingi dan diperkuat. Menjalankan program di Berau dan Malinau sebagai daerah perbatasan wilayah NKRI memberikan cerita lain. Bukan saja mengejar kualitas program semata tetapi juga membangun Nasionalisme Kebangsaan bahwa petani kakao di Malinau khususnya harus difasilitasi pasar yang berkeadilan dan membangun rasa bangga akan produk Indonesia.

Perubahan ini tampak jelas, bukan hanya pada pendekatan dan perbaikan di wilayah hulu (on farm) tetapi juga hilir (off farm), kelembagaan dan mekanisme pemasaran secara bersama satu pintu, yang tidak kalah penting adalah spirit perbaikan mutu dengan olah fermentasi dalam mendukung Peraturan Menteri Pertanian untuk penerapan SNI wajib kakao fermentasi.

 

Geliat semangat ini tercatat kuat lewat perjalanan program peningkatan kapasitas petani kakao di Berau dan Malinau, dukungan dari FORCLIME GIZ. Berbicara potensi Berau, Malinau dan Jembrana tidak dapat disejajarkan dengan sentra-sentra produksi di Sulawesi secara kuantitas. Nilai spesifik yang akan menjadi warna dan ciri khas terutama kualitas, menjadi prioritas program. Bagaimana menempatkan produsen sebagai pemilik kebun yang memiliki posisit tawar kuat harus dibangun secara simultan dan inilah yang menjadi focus utama GIZ.   Tentu saja membangun ini, tidak dengan instan dan proses ini sudah di gagas melalui sebuah rangkaian program yang menjadikan PROSES sebagai dasar utama dan kekuatan program. Hal ini telah dimulai dengan pelaksanaan Workshop Sinergitas/ Workshop Awerness yang mampu mengakomodir berbagai pemikiran kritis dari para komponen terkait. Semangat ini dilanjutkan dengan pelaksanaan training GAP (Good Agriculture Practices) dengan metoda praktek langsung di lapangan. Para pelopor penggerak perubahan (local champion) di tingkat akar rumput banyak ditemukan seiring pelaksaan program ini, dengan harapan dari merekalah perubahan tersebut dimulai…bergulir dan pada akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama.